BAB III
III. METODE PENELITIAN
DAN TEKNIK ANALISIS DATA
A.
Metode
Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini
dilakukan di Kabupaten Banyumas
2.
Objek
penelitian
Objek dari
penelitian ini adalah pemusatan (aglomerasi) industri manufaktur besar dan
sedang.
3.
Jenis
Penelitian
Jenis penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian penjajakan. Penelitian
penjajakan bersifat terbuka, masih mencari-cari dan belum mempunyai hipotesa.
Pengetahuan peneliti tentang gejala yang mau diteliti masih sedikit sekali.
Penelitian penjajakan, dengan demikian sering dilakukan sebagai langkah pertama
untuk penelitian yang lebih mendalam, baik itu penelitian penjelasan maupun
penelitian deskriptif. Melalui penelitian eksploratif tersebut masalah
penelitian dapat dirumuskan dengan lebih jelas dan lebih terperinci, dan
hipotesa dapat dikembangkan (Masri Singarimbun dan Sofian Efendi, 1985).
4.
Populasi
dan Sampel Penelitian
Populasi dan
sampel dalam penelitian ini adalah seluruh industri manufaktur besar dan sedang
yang terdaftar dalam direktori industri manufaktur besar dan sedang di
Kabupaten Banyumas sebanyak 63 industri.
5.
Sumber
Data
Data
yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS)
dan dinas-dinas terkait guna mendapatkan data mengenai pertumbuhan ekonomi,
jumlah tenaga kerja, jumlah industri manufaktur, dan lokasi industri manufaktur
di Kabupaten Banyumas. Peneliti juga menggunakan data berupa koordinat
lokasi-lokasi industri yang diperoleh dengan survai secara langsung ke
lokasi-lokasi industri manufaktur yang tersebar di Kabupaten Banyumas.
B. Teknik Analisis Data
1.
Metode
Analisis
Penelitian ini menggunakan analisa
data sekunder, yakni menganalisis aglomerasi dengan menggunakan indeks balassa,
Specialization Indeks (SI), dan Localization Indeks (LI). Sebelum menganalisis spesialisasi industri manufaktur di
Kabupaten Banyumas, digunakan penggolongan atau pengklasifikasian industri yang
terstandarisasi dan dikenal dengan Industrial
Clasification of all economic activities, revisi empat yang telah
disesuaikan dengan kondisi di Indonesia dengan nama Klasifikasi Baku Lapangan
Usaha Industri (KBLI). Penggolongan industri tersebut dibagi ke dalam beberapa
tingkatan dengan kode angka mulai dua hingga empat digit.
Penelitian ini juga menganalisis pola persebaran
lokasi industri dan aglomerasi di Kabupaten Banyumas. Survai digunakan untuk
mengetahui koordinat lokasi-lokasi industri yang tersebar di Kabupaten Banyumas
dengan menggunakan Global Positioning
System (GPS). Kemudian digunakan metode Sistem Informasi Geografis (SIG)
untuk mengetahui persebaran industri manufaktur besar dan sedang Kabupaten
Banyumas dengan alat analisis ArcView GIS 3.3.
2.
Analisis
Aglomerasi
Analisis
aglomerasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar kekuatan aglomerasi pada
suatu wilayah di Kabupaten Banyumas dengan perhitungan indeks balassa, kemudian
untuk melihat apakah industri mengelompok pada suatu area atau tidak digunakan
analisis Localization Indeks (LI). Peneliti juga mengukur
spesialisasi subsektor industri manufaktur berdasarkan wilayah yang telah
ditetapkan peneliti di Kabupaten Banyumas dengan analisis Specialization Indeks (SI).
·
Indeks
Balassa
Indeks
Balassa digunakan untuk menghitung aglomerasi, kekhususan indeks ini adalah
dapat digunakan untuk membedakan faktor spesialisasi eksport dimana disini
diwakili oleh tenaga kerja. Adapun rumus indeks Balassa sebagai berikut.
Indeks Balassa
…………..……………………………...(3.1)
Keterangan
i = Sektor
j = Wilayah
E = Tenaga Kerja
Pembilang dari indeks ini menyajikan
bagian wilayah dari total tenaga kerja di sektor industri manufaktur. Semakin
terpusat suatu industri, semakin besar indeks Balassanya. Aglomerasi dikatakan
kuat bila angka indeks balassa diatas empat, rata–rata atau sedang bila
nilainya antara dua dan empat, lemah bila nilainya diantara satu sampai dua,
sedangkan nilai nol sampai satu berarti tidak terjadi aglomerasi atau wilayah
tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif untuk terjadinya aglomerasi. (Sbergami, 2002)
·
Localization Indeks (LI)
Localization
Indeks merupakan salah satu indeks yang menggambarkan wilayah relatif
suatu aktivitas dibandingkan dengan kecenderungan total di dalam wilayah.
Umumnya indeks ini digunakan untuk mengetahui persen distribusi suatu aktivitas
tertentu di dalam wilayah atau secara umum analisis ini digunakan untuk
menentukan wilayah mana yang potensial untuk mengembangkan aktivitas tertentu.
Dan digunakan untuk mengetahui penyebaran kegiatan industri manufaktur di suatu
daerah sehingga diketahui tingkat aglomerasinya.
Keterangan
:
Si = Jumlah tenaga kerja industri manufaktur subsektor i pada
tingkat kecamatan
S = Jumlah total tenaga
kerja industri manufaktur pada tingkat Kecamatan.
Ni = Jumlah tenaga kerja industri manufaktur subsektor i pada
tingkat Kabupaten
N = Jumlah total tenaga
kerja industri manufaktur pada tingkat Kabupaten
LI = Koefisien lokalisasi didapat dari menjumlahkan nilai LI
yang bertanda positif,
LI < 1, maka kegiatan industri manufaktur subsektor i
menyebar LI ≥ 1, maka industri manufaktur berkumpul di satu wilayah
(beraglomerasi)
·
Specialization
index (SI)
Specialization Indeks merupakan salah satu indeks
yang menggambarkan pembagian wilayah berdasarkan aktivitas-aktivitas yang ada.
Lokasi tertentu menjadi pusat bagi aktivitas yang dilakukan.
Keterangan
Si = Jumlah tenaga kerja industri
manufaktur subsektor i pada tingkat Kecamatan
S = Jumlah seluruh tenaga kerja industri manufaktur pada
tingkat Kecamatan
Ni = Jumlah tenaga kerja industri manufaktur subsektor i pada
tingkat Kabupaten.
N = Jumlah seluruh tenaga kerja industri manufaktur pada
tingkat Kabupaten.
Jika nilai SI = 1 maka daerah
berspesialisasi pada industri manufaktur. Jika SI < 1, maka tidak ada
kegiatan spesialisasi di daerah.
·
Sistem
Informasi Geografis
Dalam menganalisa sebaran geografis
dan aglomerasi di Kabupaten Banyumas, digunakan metode analisis Sistem
Informasi Geografis (SIG). SIG merupakan alat analisis yang bermanfaat untuk
mengidentifikasi lokasi industri dan untuk mengidentifikasi di daerah mana
mereka cenderung mengelompok secara spasial.
Menurut Kuncoro (2002), SIG dapat
mentransformasikan data menjadi informasi dengan mengintegrasikan sejumlah data
yang berbeda, menerapkan analisis fokus, dan menyajikan output dalam rangka
mendukung pengambilan keputusan. Kemampuan SIG dalam penyimpanan, analisis,
pemetaan dan membuat model mendorong aplikasi yang luas dalam berbagai disiplin
ilmu, dari teknologi informasi hingga sosial ekonomi maupun analisis yang
berkaitan dengan populasi.
SIG
merupakan alat yang bermanfaat untuk mengidentifikasikan dimana suatu industri
cenderung mengumpul. SIG pada
dasarnya adalah suatu tipe sistem informasi, yang memfokuskan pada penyajian
dan analisis realitas geografis. Titik beratnya adalah mengelola dan
menganalisa data spasial dengan suatu sistem informasi. Prosedur dan aktivitas
utama dalam Sistem Informasi Geografi dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1.
Prosedur dan Aktivitas Utama dalam SIG
|
Prosedur
|
Aktivitas
|
|
Memperoleh data
|
·
Pemberian keterangan pada peta-peta dan
dokumen-dokumen termasuk juga pengkodean data, verifikasi data, dan
pengkoreksian kesalahan.
·
Menjelaskan sekumpulan data yang telah ada,
khususnya yang berasal dari survey industri yang dipublikasikan tahunan oleh
BPS.
|
|
Persiapan pengolahan data
|
·
Menginterpretasikan atau mengklasifikasikan data
yang didapat dari survai
·
Menyusun struktur data digital untuk memilih
model-spasial/ruang (berdasarkan objek, jaringan, dan lapangan)
·
Mentransformasikan atau mengubah menjadi koordinat
biasa/umum.
|
|
Pengkontruksian data dasar
atau database (penyimpanan data dan
pemanggilan kembali data)
|
·
Membuat mode dari konsep data
·
Menetapkan struktur data base
·
Menetapkan prosedur terbaru
·
Mengirim data ke database
|
|
Penelitian
spasial/lokasi/wilayah beserta analisanya
|
·
Pemanggilan data berdasarkan lokasi
·
Pemanggilan data berdasarkan kelas atau atribut
·
Menemukan lokasi yang paling cocok berdasarkan
kriteria
·
Mencari pola, kelompok, jalur dan interaksi
·
Membuat model dan menstimulasikan pada fenomena
fisik dan sosial.
|
|
Tampilan
secara grafik (visualisasi dan interaksi)
|
·
Menciptakan peta
·
Menggali data
·
Menciptakan tampilan tiga dimensi
·
Membuat laporan
|
Sumber : Jones dalam
Kuncoro, 2002
Komentar
Posting Komentar