Latar Belakang Masalah

I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara. Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth); pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi itu sendiri ditandai dengan adanya laju kenaikan produk perkapita yang tinggi, sehingga untuk mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi daerah perlu ditentukan prioritas pembangunan daerah. (Boediono, 1985)
Pembangunan daerah merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat untuk mengelola semua sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dan sektor swasta guna menciptakan lapangan kerja baru serta mendorong perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah pembangunan yang bersangkutan. (Blakely, 1989 dalam Mudrajad Kuncoro, 2004)
Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang ada harus mampu menaksir potensi sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerah (Arsyad, 2005).
Kuncoro (2002) menyatakan bahwa salah satu kebijakan pemerintah untuk mempersempit kesenjangan regional adalah diterapkannya kebijakan pembangunan daerah yang dilakukan berdasarkan potensi yang dimiliki masing-masing daerah. Perubahan konsep dan kewenangan daerah yang semula ditujukan atas dasar pemusatan kebijakan pusat, selanjutnya diarahkan menjadi kemandirian daerah dalam mengelola kawasannya, termasuk kebijakan-kebijakan pembangunan daerah konsekuensinya adalah tidak mungkin dapat mengidentifikasi pola pembangunan yang seragam, akibat perbedaan karakteristik, letak geografis, sumber daya alam, sarana dan prasarana pembangunan dan sumber daya manusia yang ada. Kebijakan pembangunan harus disesuaikan dengan karakteristik potensi daerah itu sendiri, sehingga pengenalan potensi melalui pengenalan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah mutlak dibutuhkan bagi pembangunan daerah.
Pertumbuhan ekonomi menggambarkan suatu dampak nyata dari kebijakan pembangunan yang dilaksanakan, khususnya di bidang ekonomi. Sehingga menurut Meier (1995), pertumbuhan ekonomi merupakan bagian dari pembangunan ekonomi. Tanpa adanya pertumbuhan ekonomi, maka pembangunan ekonomi kurang bermakna.
Pertumbuhan ekonomi dapat diketahui dengan membandingkan pendapatan dari berbagai tahun yang dihitung berdasarkan harga berlaku atau harga konstan, sehingga perubahan dalam nilai pendapatan hanya disebabkan oleh suatu perubahan dalam tingkat kegiatan ekonomi. Suatu perekonomian dikatakan mengalami suatu perubahan akan perkembangannya apabila tingkat kegiatan ekonomi adalah lebih tinggi daripada yang dicapai pada masa sebelumnya. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator untuk menunjukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah.
Tabel 1.1 menjelaskan tentang struktur perekonomian yang ada di Jawa Tengah. Dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto pada periode tahun 2007-2011, sektor industri pengolahan memberikan sumbangan terbesar terhadap struktur perekonomian Jawa Tengah dibanding sektor lainnya.
Tabel 1.1
Struktur Ekonomi Jawa Tengah Atas Dasar Harga Konstan
Tahun 2007–2011 (persen)
Lapangan Usaha
2007
2008
2009
2010
2011
1. Pertanian
20.03
19.57
19.30
18.69
17.87
2. Pertambangan dan galian
1.12
1.10
1.11
1.12
1.11
3. Industri pengolahan
31.97
32.94
32.51
32.83
33.06
4. Listrik, gas, dan air bersih
0.84
0.84
0.84
0.86
0.85
5. Bangunan
5.69
5.74
5.83
5.89
5.91
6. Perdagangan, hotel, dan restoran
21.30
20.96
21.38
21.42
21.73
7. Pengangkutan dan komunikasi
5.06
5.11
5.20
5.24
5.37
8. Keuangan, persewaan, dan jasa      perusahaan
3.62
3.70
3.79
3.76
3.79
9. Jasa-jasa
10.36
10.04
10.03
10.18
10.32

100.00
100.00
100.00
100.00
100.00
Sumber : BPS Jawa Tengah dalam Angka
Pembangunan sektor industri manufaktur (manufacturing industry) hampir selalu mendapat prioritas utama dalam rencana pembangunan negara-negara sedang berkembang (NSB), hal ini karena sektor industri manufaktur dianggap sebagai sektor pemimpin (the leading sector) yang mendorong perkembangan sektor lainnya, seperti sektor jasa dan pertanian.
Penelitian empiris tentang transformasi struktur ekonomi menunjukkan bahwa sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita, perekonomian suatu negara akan bergeser dari yang semula mengandalkan sektor pertanian (atau sektor pertambangan) menuju ke sektor industri. Transformasi struktural dapat dilihat pada perubahan pangsa nilai output agregat atau nilai tambah dari setiap sektor di dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) atau produk nasional bruto (PNB) atau pendapatan nasional. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ditekankan bahwa penting untuk terus meningkatkan daya saing sektor industri manufaktur agar tetap menjadi sektor strategis di dalam pembangunan nasional.
Kasus menarik yang terjadi di Kabupaten Banyumas adalah terjadinya perubahan struktur ekonomi Kabupaten Banyumas. Sektor industri manufaktur yang semula berada di urutan kedua dalam struktur ekonomi Kabupaten Banyumas tergeser oleh sektor jasa. Dalam konteks pembangunan ekonomi, terjadinya perubahan struktur ekonomi dapat menyebabkan munculnya pengangguran yang biasa disebut dengan pengangguran struktural.
Tabel 1.2 menjelaskan tentang struktur ekonomi Kabupaten Banyumas pada periode tahun 2007-2008. Pada tahun 2007 dan 2008 sektor industri manufaktur Kabupaten Banyumas memberikan kontribusi terbesar kedua dalam struktur perekonomian sebesar 16.66 persen dan 16.34 persen. Pada tahun 2009 sampai 2011 terjadi perubahan struktur ekonomi Kabupaten Banyumas, sektor industri manufaktur menempati urutan ketiga  dalam struktur perekonomian tergeser oleh sektor jasa dengan kontribusi yang relatif menurun.

Tabel 1.2
Struktur Ekonomi Kabupaten Banyumas Atas Dasar Harga Konstan
Tahun 2007-2011 (persen)
Lapangan Usaha
2007
2008
2009
2010
2011
Pertanian
21.23
21.18
21.06
20.65
19.83
Pertambangan dan galian
1.40
1.39
1.39
1.40
1.39
Industri pengolahan
16.66
16.34
15.96
15.75
15.85
Listrik, gas, dan air bersih
0.96
0.95
0.96
0.98
0.97
Bangunan
9.15
9.15
9.24
9.25
9.28
Perdagangan, hotel, dan restoran
15.08
15.13
15.08
15.27
15.46
Pengangkutan dan komunikasi
10.51
10.57
10.48
10.53
10.76
Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan
8.71
8.76
8.97
8.99
9.06
Jasa-jasa
16.30
16.54
16.86
17.17
17.40
100.00
100.00
100.00
100.00
100.00






Sumber : BPS Banyumas dalam Angka
Perubahan struktur ekonomi memperlihatkan adanya perubahan arah kebijakan terhadap sektor industri manufaktur di Kabupaten Banyumas. Perubahan struktur ekonomi di Kabupaten Banyumas juga tidak menjadikan sektor industri lesu dalam pertumbuhan tiap tahunnya.  Pada tahun 2007 pertumbuhan sektor industri sebesar tiga persen, diikuti pertumbuhan yang sama sampai tahun 2009. Pada tahun 2010 sektor industri mengalami kenaikan pertumbuhan menjadi 4 persen, dan pada tahun 2011 menjadi 7 persen.
Tabel 1.3
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Banyumas
Menurut Sektor/Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000
Tahun 2007-2011
Sektor/Lapangan Usaha
2007
2008
2009
2010
2011
Pertanian
3%
5%
5%
4%
2%
Penggalian
5%
5%
5%
7%
5%
Industri
3%
3%
3%
4%
7%
Listrik, gas, dan air bersih
8%
4%
6%
9%
5%
Bangunan
5%
5%
7%
6%
6%
Perdagangan
6%
6%
5%
7%
7%
Angkutan Komunikasi
5%
6%
5%
6%
8%
Keuangan, persewaan dan jasa pers
8%
6%
8%
6%
7%
Jasa-jasa
10%
7%
8%
8%
7%
 Sumber : BPS Kabupaten Banyumas
Menurut Todaro (2000) ada tiga faktor atau komponen utama yang harus terpenuhi dalam pembentukan pertumbuhan ekonomi dari setiap bangsa. Ketiga faktor tersebut adalah: (1) akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, dan modal atau sumber daya manusia  (2) pertumbuhan penduduk, yang beberapa tahun selanjutnya akan memperbanyak jumlah angkatan kerja (3) kemajuan teknologi.
Selain faktor-faktor tersebut, muncul faktor lain dalam kontek pertumbuhan ekonomi daerah, yaitu adanya keuntungan dari ekonomi aglomerasi (agglomeration economies). Seperti yang dikatakan oleh Bradley and Gans (1996), bahwa ekonomi aglomerasi adalah eksternalitas yang dihasilkan dari kedekatan geografis dari kegiatan ekonomi. Selanjutnya adanya ekonomi aglomerasi dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Sebagai akibatnya daerah-daerah yang termasuk dalam aglomerasi pada umumnya mempunyai laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang bukan aglomerasi.
Banyaknya aktivitas ekonomi pada suatu wilayah tidak terjadi begitu saja, namun didorong oleh berbagai fasilitas dan kemudahan. Bila aktivitas-aktivitas ekonomi tersebut menjadi mengelompok karena dorongan berbagai faktor, maka akan membentuk yang dinamakan aglomerasi ekonomi. Berdasarkan teori yang dinyatakan oleh Montgomery dalam Kuncoro (2002), pengertian aglomerasi adalah konsentrasi spasial dari aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan karena penghematan akibat lokasi yang berdekatan (economies of proximity) yang diasosiasikan dengan kluster spasial dari perusahaan, para pekerja dan konsumen.
Terjadinya aglomerasi membawa berbagai keuntungan. Menurut Alfred Marshall, aglomerasi ekonomi akan menyebabkan penurunan biaya produksi, karena kegiatan–kegiatan ekonomi berlokasi pada tempat yang sama. Demikian juga menurut ahli ekonomi Hoover yang mengklasifikasikan ekonomi aglomerasi menjadi tiga jenis yaitu large scale economies, localization economies, urbanization economies. Large scale economies merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan karena membesarnya skala produksi perusahaan tersebut pada suatu lokasi. Localization economies merupakan keuntungan yang diperoleh bagi semua perusahaan dalam industri yang sama dalam suatu lokasi. Urbanization economies merupakan keuntungan bagi semua industri pada suatu lokasi yang sama sebagai konsekuensi membesarnya skala ekonomi dari lokasi tersebut. Keuntungan aglomerasi diharapkan dapat memberikan dampak yang positif terhadap pertumbuhan suatu wilayah atau region.
Globalisasi dan liberalisasi ekonomi telah membawa perubahan yang sangat cepat bagi dunia perekonomian. Dampak yang sangat dirasakan yaitu semakin ketatnya persaingan sektor industri di berbagai negara. Oleh karena itu, agar sektor industri ini mampu berkembang dalam ketatnya persaingan dunia pada saat ini maka industri harus mampu meningkatkan perekonomian yang berdaya saing tinggi.
Aglomerasi ekonomi diharapkan memberikan spread effect terhadap daerah sekitarnya sehingga memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap wilayah sekitarnya. Pada pembangunan sektor industri manufaktur, kebijakan yang berorientasi spasial dan regional merupakan salah satu faktor kunci yang dapat mendukung pemerintah pusat dan daerah dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan pembangunan. (Kuncoro, 2002)
B.     Rumusan Masalah
Perubahan konsep dan kewenangan daerah yang semula ditujukan atas dasar pemusatan kebijakan pusat, selanjutnya diarahkan menjadi kemandirian daerah dalam mengelola kawasannya mengharuskan pemerintah daerah Kabupaten Banyumas membuat kebijakan-kebijakan yang memberikan implikasi positif bagi pembangunan daerah tersebut. 
Semakin pentingnya daerah perkotaan sebagai unit ekonomi yang besar pada suatu wilayah telah disadari dalam konfigurasi pola spasial baru dalam pembangunan ekonomi daerah, sehingga menjadikan aglomerasi dan kluster industri sebagai isu-isu yang harus dibahas dalam penentuan kebijakan pembangunan daerah di Kabupaten Banyumas.
Perubahan struktur ekonomi memperlihatkan adanya perubahan arah kebijakan terhadap sektor industri manufaktur di Kabupaten Banyumas., akan tetapi sektor industri masih mengalami pertumbuhan yang relatif naik dari tahun ke tahun walau dengan rata-rata pertumbuhan yang relatif kecil. Hal ini menarik minat peneliti untuk melihat faktor aglomerasi yang telah disinggung oleh banyak ahli ekonomi dalam konsep ilmu ekonomi regional sebagai hal yang dapat meningkatkan pertumbuhan di sektor industri. Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang dibuat adalah bagaimana pola aglomerasi di Kabupaten Banyumas?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pola aglomerasi di Kabupaten Banyumas.
D.    Manfaat Penelitian
1.      Sebagai masukan bagi pembuat kebijakan, terutama berkaitan dengan strategi dalam meningkatan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di Kabupaten Banyumas.
2.      Sebagai bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan tentang rencana pemekaran daerah perkotaan di Kabupaten Banyumas

3.      Sebagai sumber data bagi penelitian sejenis yang relevan dengan topik yang dibahas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAB III

BAB II